• REGISTER
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Arsip Peninggalan Belanda di Indonesia dan Akses terhadap Arsip Peninggalan Belanda di ANRI

  • PDF

I. Pengantar

Saya agak terkejut ketika saya dihubungi oleh sekretariat BPPI pada hari Selasa, tanggal 24 Januari 2012 yang disusul dan ditindak lanjuti dengan pengiriman e-mail yang ditanda tangani oleh Ibu Catrini Ari (Direktur Eksekutif Badan Pelestarian Pusaka Indonesia - BPPI) yang meminta saya untuk menjadi pembicara/narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) I di Surabaya pada Hari Jumat, tanggal 27 Januari 2012. Terkejut karena waktu pelaksanaan sangat mepet, sangat singkat yaitu hanya ada waktu 2 (hari) untuk mempersiapkannya. Padahal saya sendiri banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Tetapi karena substansi yang akan dibahas sangat menarik, dengan tema “Memperbaiki Akses terhadap Koleksi Arsip tentang Belanda di luar Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Surabaya”, dan makalah (bahan diskusi) yang harus saya persiapkan “Sistem Manajemen Arsip di ANRI dan Manajemen Informasi Koleksi Arsip Belanda di ANRI,” maka saya dengan senang hati memenuhi permintaan yang sangat mendadak tersebut. Tanpa mengurangii rasa hormat dan tanpa konsultasi dengan panituia, setelah saya membaca TOR saya dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “Koleksi Arsip Belanda di ANRI” sebetulnya adalah “Khasanah Arsip Peninggalan Belanda di ANRI” atau “Arsip Peninggalan Belanda di ANRI.” Sehubungan dengan itu dan dengan adanya rencana BPPI untuk “Mengembangkan akses terhadap koleksi arsip tentang Belanda di luar ANRI”, maka saya menyiapkan makalah (bahan diskusi) yang secara tersurat barangkali tidak berbeda dengan maksud TOR yang dibuat oleh BPPI. Saya menyiapkan  bahan diskusi atau makalah dengan judul “Arsip Peninggalan Belanda di Indonesia dan Akses terhadap Arsip Peninggalan Belanda di ANRI.” Judul baru ini secara tersirat barangkali sama dengan yang dimaksudkan oleh BPPI dalam TOR, tetapi secara tersurat jelas berbeda.

 

Adalah perlu dijelaskan lebih lanjut tentang sub judul “Arsip Peninggalan Belanda di Indonesia.” Sebelumnya telah dijelaskan tentang alasan mengapa penulis perlu mengubah judul yang diminta oleh BPPI. Tetapi alasan tersebut dirasa masih kurang sehingga  perlu kiranya ditambah. Untuk itu ada baiknya kalau kita sama-sama melihat kembali TOR yang dibuat oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Focus Group Discussion (FGD) Tahap I “Mengembangkan Akses terhadap Koleksi Arsip tentang Belanda di luar ANRI di Surabaya”. Kata-kata “Arsip tentang Belanda” barangkali kurang tepat karena bisa diartikan “hanya tentang Belanda” tetapi “bukan tentang Indonesia”. Padahal dalam Latar Belakang TOR BPPI  disebutkan “interaksi antara bangsa Indonesia dengan Belanda” dalam rangka membangun “sektor pengelolaan pusaka budaya yang bersifat terbagikan (shared cultural heritage) sebagai pusaka bersama.” Dari penjelasan tersebut sangat jelas bahwa yang dimaksud “bukan hanya arsip tentang Belanda” melainkan “arsip tentang Indonesia dan Belanda”. Oleh karena itu ada baiknya apabila kata-kata “Arsip tentang Belanda” diganti dengan kata-kata “Arsip Peninggalan Belanda”. Selanjutnya kata-kata tersebut perlu ditambah dengan kata-kata “di Indonesia” sehingga menjadi “Arsip Peninggalan Belanda di Indonesia”. Arsip Peninggalan Belanda di Indonesia bisa tentang Indonesia, bisa tentang Belanda, dan bisa tentang Indonesia dan Belanda. Kemudian penulis  juga akan merubah sub judul “Manajemen Informasi Koleksi Arsip Belanda di ANRI” menjadi “Akses terhadap Arsip Peninggalan Belanda di ANRI”.  Di sini kata-kata “Koleksi Arsip Belanda” diganti dengan kata-kata “Arsip Peninggalan Belanda”. Sedangkan kata “akses” akan menggantikan “manajemen informasi”. Kata “akses” dalam konteks sub judul ini menurut saya lebih tepat karena esensi yang diperlukan oleh public atau masyarakat sebenarnya adalah akses terhadap arsip peninggalan Belanda tersebut. Dengan judul baru “Arsip Peninggalan Belanda di Indonesia dan Akses terhadap Arsip Peninggalan Belanda di ANRI” maka judul tersebut sejalan dengan maksud yang ada dalam TOR.

Arsip peninggalan Belanda di Indonesia akan mencakup arsip yang di ANRI dan yang di luar ANRI. Arsip peninggalan Belanda di Indonesia yang terbesar adalah disimpan di ANRI (Arsip Verenigde Oost Indische Compagnie sebesar lebih kurang 2500 meter linier dan arsip Gouvernement van Nederlands-Indie sebesar kurang lebih 7500 meter linier). Sedangkan yang di luar ANRI  tersebar di berbagai tempat, khususnya di beberapa Instansi Pemerintah, baik di Pusat maupun Daerah. Beberapa instansi pusat pada jaman Belanda ada yang berkantor di Batavia (sekarang Jakarta) dan ada yang berkantor di Bandung. Yang berkantor di Batavia, misalnya Topograpische Dienst, Hydrograpische dan Bank-bank yang setelah Indonesia merdeka menjadi Bank-Bank Pemerintah atau Bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Adapun Bank-bank tersebut adalah De Javasche Bank, Nederlands Handels Maatschapiij Bank, Nederlands Handels Bank, Escomto Bank, Algemeen Volkscrediet Bank, dan Postpaarbank yang dulunya berkantor di Batavia (sekarang Jakarta). Selain itu beberapa instansi pusat yang berkantor di Bandung, yaitu Departement Burgerlijke Openbare Werken, Departement van Verkeer en Waterstaat, Dienst van Mijnwezen, Nederlands-Indisch Spoorwegen, dan Postkantoor. Sedangkan arsip peninggalan Belanda yang di daerah, yang sekarang disimpan di lembaga kearsipan daerah pada masa Pemerintahan Hidia-Belanda disebut gewestelijk archieven (arsip-arsip daerah). Adapun arsip tersebut sekarang disimpan di lembaga-lembaga kearsipan di Propinsi Jawa Barat, Propinsi Jawa Tengah, Propinsi Jawa Timur, Propinsi Sulawesi Selatan, Propinsi Maluku, dan Kota Bandung.  Data-data tersebut adalah data awal yang saya ketahui. Saya yakin masih banyak arsip peninggalan Belanda di Indonesia yang di luar ANRI yang belum terdata. Oleh karena itu BPPI dapat melakukan pendataan dan bahkan pendataan ulang terhadap arsip yang telah saya sebut di atas.  Perubahan  dari “Arsip Belanda di ANRI” menjadi “Arsip Peninggalan Belanda di ANRI” adalah sangat mendasar dan bukan masalah teknis. “Seandainya istilah “Arsip Belanda di ANRI” tetap dipertahankan maka bisa diartikan bahwa “Arsip Belanda di ANRI” adalah arsip milik Belanda yang disimpan di ANRI.

Menurut Vienna Convention on Succession of States in respect of State Property, Archives, and Debts, arsip yang ditinggalkan oleh predecessor state ( Belanda) di Indonesia menjadi milik successor state (Indonesia). Pemerintah Kerajaan Belanda sendiri juga tidak pernah mengklaim bahwa arsip di bekas jajahannya adalah adalah arsip miliknya, termasuk arsip VOC dan Hindia-Belanda yang sekarang dikelola oleh ANRI. Pemerintah Kerajaan Belanda, termasuk Nationaal Archief hanya menyebut arsip peninggalannya di bekas jajahannya disebut sebagai “Mutual Cultural Heritage.” Agak disayangkan bahwa obyek dari program “Mutual Cultural Heritage” adalah arsip peninggalan Belanda yang berada di negara bekas daerah jajahannya. Seharusnya yang namanya “Mutual Cultural Heritage” juga mencakup arsip tentang bekas jajahanya yang disimpan di Belanda. Perlu disampaikan di sini bahwa arsip Belanda tentang Indonesia yang disimpan di Nationaal Archief  Belanda sebanyak 4000 meter linier atau 4 kilometer linier dan arsip Belanda tentang Indonesia di Belanda yang berada di luar Nationaal Archief sebanyak 1500 meter linier atau 1,5 kilometer linear (van Dijk dan Balk, 2007). Sebetulnya masih ada lagi arsip tentang Indonesia atau tentang hubungan Indonesia dengan Belanda di luar negeri, khususnya setelah tahun 1945 (lihat Drooglever, Schouten, dan Lohanda, 1999 dalam “Guide to the archives on relations between the Netherlands and Indonesia 1945-1963”). Dengan demikian program “Mutual Cultural Heritage (MCH)” dari Pemerintah Kerajaan Belanda sejalan dengan program BPPI yang mempunyai program “Shared Cultural Heritage (SCH)”. Program Mutual Cultural Heritage sendiri baru diluncurkan pada tanggal 1 Januari 2009. Program ini dibiayai oleh dan merupakan inisiatif dari Kementerian Pendidikan, Kebudayan, & Sains, dan Kementerian Luar Negeri Belanda. Adapun mitra kerja yang mebnjadi prioritas adalah Indonesia, India, Sri Lanka, Afrika Selatan, Ghana, Brazil, Suriname, dan Rusia.

Sebelum membahas “Peninggalan Arsip Belanda di Indonesia dan Akses terhadap Arsip Peninggalan Belanda di ANRI” ada baiknya beberapa istilah teknis kearsipan perlu diberi arti untuk memperjelas bahasan. Adapun beberapa istilah tersebut khususnya adalah arsip, arsip dinamis, arsip statis, akses, koleksi, dan khasanah. Istilah arsip di Indonesia berasal dari Belanda “archief”. Demikian juga istilah arsip dinamis (dinamisch archief) dan arsip statis (statisch archief). Di USA, arsip dinamis disebut records, sedangkan arsip statis disebut archives. Selanjutnya Records Management diartikan sebagai Manajemen Arsip Dinamis dan Archives Management diartikan sebagai Manajemen Arsip Statis. Akses berasal dari bahasa Inggris access. Di Belanda akses sering diartikan dengan “keterbukaan”, yang harus memenuhi 2(dua) syarat, yaitu pertama keterbukaan yang berhubungan dengan hukum atau peraturan-perundang-undangan, yaitu yang disebut dengan “openbaarheid”. Kedua, keterbukaan yang berkaitan dengan ketersediaan sarana temu balik (finding aids) suatu arsip, yang disebut dengan “toegankelijkheid”. Perlu kiranya diingatkan kembali bahwa di Indonesia masalah keterbukaan arsip sudah diatur secara umum dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan secara khusus telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan. Memperoleh Informasi (apalagi arsip statis) dijamin oleh Konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 F (Amandemen kedua 18 Agustus 2000).

Untuk arsip peninggalan Belanda, baik arsip VOC maupun Pemerintah Hindia-Belanda pada dasarnya adalah terbuka untuk umum atau untuk publik. Namun demikian walaupun arsip tersebut sudah terbuka tetapi untuk peneliti asing dipersyaratkan terlebih dahulu mendapatkan ujin penelitian yang dikeluarkan oleh Kementian Riset dan Teknologi. Istilah “koleksi” berasal dari bahasa Inggris collection, lebih sering digunakan untuk bahan pustaka, baik karya cetak maupun karya rekam. Untuk arsip, istilah koleksi  walau masih ada yang menggunakan tetapi tidak terlalu sering, kecuali untuk arsip yang memang “di koleksi”. Sebagian besar archivist lebih suka menggunakan istilah khasanah (holdings) dari pada istilah koleksi karena pada dasarnya arsip tumbuh dan berkembang secara wajar, sebagaimana makluk hidup. Hal ini sesuai dengan anjuran ahli arsip Inggris Sir Hilary Jenkinson.

 

II.  Arsip Peninggalan Belanda di Indonesia

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa berdasarkan Vienna Convention on Succession of States in respect of State Property, Archives, and Debts, maka arsip yang diciptakan oleh Negara pendahulu (predecessor state) menjadi milik Negara penerusnya (successor state). Hal ini berarti bahwa arsip yang diciptakan oleh Belanda (predecessor state) di Indonesia menjadi milik Indonesia (successor state). Dengan demikian arsip peninggalan Belanda di Indonesia, yaitu  arsip yang diciptakan oleh Kongsi Dagang Hindia Timur (Verenigde Oost Indische Compagnie) (VOC) (1602- 1799) dan arsip yang diciptakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda (Gouvernement van Nederlands-Indie)(1816-1942) menjadi milik Indonesia. Dengan demikian maka dalam konteks ini istilah yang tepat untuk menyebut arsip tersebut adalah arsip peninggalan Belanda di Indonesia. Arsip peninggalan Belanda di Indonesia tersebut adalah menjadi milik Indonesia.

Barangkali ada baiknya apabila di sini diberikan contoh tentang adanya 4 (empat) surat Ir. Soekarno (ketika dalam Penjara Sukamiskin) kepada Jaksa Agung Hindia-Belanda di Batavia. Empat surat tersebut bertanggal 30 Agustus, 7, 21, dan 28 September 1928. Empat surat tersebut adalah salinan autentik (authentiek afschriften) yang disimpan di Nationaal Archief Belanda (sebelumnya Algemeen Rijksarchief). Apabila empat surat tersebut asli dan berada di Belanda  maka empat surat tersebut harus diserahkan atau dikembalikan ke Indonesia. Hal ini sesuai dengan Vienna Convention yang telah disebut di atas. Tetapi karena arsip tersebut hanya salinan maka salinan tersebut bukan milik Indonesia. Dalam konteks  hubungan Indonesia Belanda maka arsip tersebut (yang sekarang disimpan di Nationaal Archief) adalah merupakan “Mutual Cultural Heritage (MCH)” atau “Shared Cultural Heritage (SCH)”. Inilah suatu contoh yang perlu dilakukan oleh Indonesia yaitu mendata dan mendaftar arsip-arsip tentang Indonesia di Belanda yang jumlahnya sebanyak 5500 meter linier (di National Archief 4000 ml dan di luar Nationaal Archief 1500 ml). ANRI sewaktu dibawah kepemimpinan Ibu Soemartini telah meminta arsip tentang Indonesia yang tersimpan di Algemeen Rijksarchief (sekarang Nationaal Archief)  Den Haag dalam bentuk copy (mikrofilm), dan meminta copy foto yang tersimpan di Koninkelijk Instituut voor de Tropen (KIT) di  Amsterdam. Perlu disampaikan di sini bahwa  arsip VOC semuanya disimpan di ANRI, sedangkan untuk arsip Pemerintah Hindia-Belanda sebagian besar disimpan di ANRI dan sebagian kecil masih disimpan di berbagai instansi, baik pusat maupun daerah, sebagaimana telah sisampaikan dalam “Pengantar” di atas. Untuk arsip peninggalan Belanda yang disimpan di ANRI sebagian besar adalah arsip yang sebelumnya disimpan di ‘sLandsarchief van Nederlandsch-Indie (Arsip Negara Hindia Belanda) di Molenvliet Weg 111 Batavia (sekarang Jalan Gajah Mada 111 Jakarta Barat).

 

I I A. Arsip VOC

Di Indonesia arsip VOC sebanyak 2500 meter linier hanya dikelola oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sebagaimana telah disampaikan di atas, Indonesia (ANRI) memiliki arsip VOC terbesar di dunia, yaitu sekitar 2500 ml (meter linier) atau sekitar 2,5 kilometer linier. Belanda hanya memiliki 1300 ml, Afrika Selaran 600 ml, Sri Lanka 300 ml, dan India 60 ml.. Arsip VOC diakui sebagai “Memory of the World” oleh UNESCO. Arsip VOC mendapat pengakuan dari UNESCO masuk dalam Memory of the World Register pada tanggal 14 September 2004 pada waktu penulis menduduki jabatan Kepala ANRI. Perlu juga disampaikan di sini bahwa pada tanggal 2 September 2007 di Denpasar, Bali bersamaan dengan pembukaan suatu  Seminar Kearsipan Internasional dengan thema “Archives as Collective Memory of the Nations” diadakan launching Inventaris/Daftar Arsip VOC (semacam katalog untuk perpustakaan) yang berjudul “The Archives of the Dutch-East India Company (VOC) and the Local Institutions in Batavia (Jakarta). Inventaris Arsip VOC tersebut dibuat oleh 3 (tiga) orang arsiparis Belanda (G.L. Balk, F. Van Dijk, dan D.J. Kortlang) dan dibantu oleh 17  (tujuh belas) arsiparis ANRI. Inventaris tersebut diterbitkan oleh penerbit kenamaan BRILL di Leiden pada tahun 2007.

Sebelum tahun 2007, arsip VOC pernah dibuat inventarisnya oleh J.A. van der Chijs pada tahun 1882, sebelum ia diangkat sebagai ‘sLandsarchivaris pada tanggal 28 Januari 1892 (Staatsblad 1892 No. 34). Adapun Inventaris Arsip yang dibuat oleh J.A. van der Chijs berjudul “Inventaris van ‘sLands Archief te Batavia (1602-1816). Yang diterbitkan di Batavia oleh Percetakan Negara (Landsdrukkerij). Secara garis besar, arsip VOC bisa dilihat di Mona Lohanda (ed) (1989), Guide to the Sources of Asian History 4 Indonesia, Vol I, Part I, Chapter I “Archives of the Dutch East India Company”.Guide ini diterbitkan oleh ANRI atas bantuan UNESCO. Guide bisa disebut juga sebagai Daftar Ikhtisar atau Ikhtisar. Peneliti atau pengguna arsip, sebaiknya melihat guide terlebih dahulu sebelum melihat Inventaris atau Daftar Arsip yang lebih detail. Dengan terlebih dahulu melihat guide, maka peneliti atau pengguna arsip akan mendapatkan gambaran umum tentang arsip yang akan dicari atau diteliti.

Arsip VOC di dalam Guide ini dibagi 2 (dua), yaitu :

1) The Archipelago, yang berisi: a. Plakaatboeken, b. Resolutien van het Casteel Batavia, c. Realia, d. Besoignes, e. Notulen, f. Daghregister van het Casteel Batavia, g. Koopbrieven, h. Schepenen, i. Collegie van Heemraden;

2) Outer Archipelago, yang berisi : a. Afgaande Patriasche Missieven, b. Aankomende Patriasche Missieven, c. Afgaande Indische Brieven, d. Buitenkantoren, e. Buitenland, f. Japan

Walaupun periode VOC berakhir pada tahun 1799 tetapi dalam kenyataannya arsip VOC tersebut ada yang melampaui periodenya, bahkan untuk Resolutien sampai abad ke 20 (1613-1910). Untuk kurun waktu sejak 1816 sebetulnya sudah masuk periode Pemerintah Hindia Belanda.

 

II B. Arsip Pemerintah Hindia-Belanda

Tidak seperti halnya arsip VOC yang hanya disimpan di ANRI, arsip Pemerintah Hindia-Belanda selain disimpan di ANRI, masih ada yang tersimpan di berbagai instansi pusat maupun daerah.

 

IIB 1. Arsip Pemerintah Hindia Belanda yang disimpan di ANRI

Arsip Pemerintah Hindia Belanda yang disimpan di ANRI sebanyak 7500 meter linier. Seperti telah disampaikan di atas bahwa arsip VOC bisa dilihat dalam Guide to the Sources of Asian History 4 Indonesia, Vol I, Part I, Chapter I. Arsip Pemerintah Hindia-Belanda yang disimpan di ANRI juga bisa dilihat dalam  Guide to the Sources of Asian History 4 Indonesia, Vol I, Part I, Chapter III “Archives of the Netherlands Indisch Government”  dan Part II “Local Archives”. Dengan catatan “Local Archives” atau “Arsip Daerah”  ini dianggap bagian dari Arsip Pemerintah Hindia Belanda.

Adapun arsip Pemerintah Hindia-Belanda (Archives of the Netherlands Indies Government) (tidak termasuk di dalamnya arsip Daerah Karesidenan) adalah :

a. Vendu Collectie,

b. Amphioen Societiet,

c. Financien,

d. Muntwezen,

e. Justitie,

f.  Raad van Justitie,

g. Weeskamer,

h. Wees en Boedelkamer

i. Kerek en Diaconie,

j. Boschwezen,

k. Bouwwerken,

l. Reizen,

m. Statistiek,

n. Medica,

o. Marine,

p. Militaria

q. Varia,

r. Instructie,

s. Commissaris Generaal

t. Regeering,

u. Inlandse Zaken,

v. Raad van Indie,

w. Algemeene Secretarie,

x. Departement van Binnenlandsch Bestuur,

y. Onderwijs en Eeredienst,

z. Cultures, dan

aa. Kleine Archieven “Pasar Ikan”.

Guide tersebut belum sepenuhnya memuat tentang data arsip Pemerintah Hindia-Belanda, khususnya yang diserahkan ke ANRI setelah tahun 1989. Misalnya arsip Departement van Openbarare (BOW) Werken (Departemen Pekerjaan Umum), Departement van Verkeer en Waterstaat (V en W) (Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum), Dienst van Mijnzen (Dinas Pertambangan), dan arsip Postkantoor (Kantor Pos). Semua arsip tersebut sebelumnya disimpan di Bandung. Untuk arsip BOW dan V en W sebelumnya disimpan di basement Gedung Sate. Untuk arsip Mijnwezen di gudang arsip Departemen ESDM di Bandung, dan arsip Postkantoor dari Kantor Pos Pusat Bandung.  Arsip Pemerintah Hindia-Belanda yang disimpan di ANRI sebanyak kurang lebih 7500 meter linier atau 7,5 kilometer linier.

 

II B 2. Arsip Pemerintah Hindia-Belanda yang disimpan di luar ANRI

Istilah ini dimaksudkan untuk mempermudah saja. Arsip peninggalan Belanda yang disimpan di luar ANRI ada 2 (dua), yaitu a) Arsip Instansi Pusat, dan 2) Arsip Daerah.

 

II B 2a. Arsip Instansi Pusat

Arsip yang digolongkan dalam kategori ini ada beberapa instansi, yaitu :

1) Arsip Topograpisch Dienst

Arsip peninggalan Belanda, khususnya Topograpisch Diesnt relative cukup banyak, yaitu berupa peta-peta Topografi.  Peta-peta topografi ini dikelola dengan baik dan ada daftarnya. Topograpisch Dienst ini setelah merdeka menjadi Dinas Topograpi Angkatan Darat.

2) Arsip Hydrograpisch Diest

Arsip peninggalan Belanda yang berupa peta hydrografi relatif cukup banyak dan tertata dengan baik. Setelah Indonesia merdeka lembaga ini menjadi Dinas Hydrografi Angkatan Laut.

3) Arsip De Javasche Bank didirikan tahun 1828.

Arsipnya cukup lengkap, meliputi periode 1818-1942. Arsip De Javasche Bank telah dibuat “Daftarnya” oleh Van Laanen, seorang ekonom Belanda. Arsip De Javasche Bank masih lengkap dan terpelihara baik. Arsip tersebut disimpan di Bank Indonesia, Jalan Thamrin. Di Bank Indonesia juga menyimpan arsip dari Cabang-cabang  Bank Nederlandsch Handels Maatschapij di Irian Barat sebelum Pepera (sekarang Papua).

4) Arsip Nederlandsch Handels Maatschapij Bank (Bank NHM), didirikan tahun 1818.

Arsipnya yang tertinggal tidak banyak. Setelah Indonesia merdeka Bank NHM ini berubah menjadi Bank EXIM.  Seperti diketahui Bank EXIM ini kemudian merger bersama Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, dan Bank Pembangunan Indonesia menjadi Bank Mandiri. Arsip Bank NHM ini kemudian disimpan di Pusat Arsip Bank Mandiri di Pesink, Jakarta Barat.

5) Arsip Nederlands Handels Bank didirikan pada tahun 1860 an.

Menurut informasi arsipnya tertinggal tidak banyak. Setelah Indonesia merdeka Bank ini berubah menjadi Bank Bumi Daya (BBD). BBD ini kemudian merger menajadi Bank Mandiri (lihat angka 2) di atas.

6) Arsip Escomto Bank didirikan pada tahun 1860 an.

Menurut informasi arsipnya yang tertinggal tidak banyak. Setelah Indonesia merdeka Bank Escomto berubah menjadi Bank Dagang Negara (BDN) yang kemudian merger mebnjadi Bank Mandiri. (lihat angka 2 di atas).

7) Arsip Algemeen Volkscrediet Bank didirikan pada tahun 1890.

Menurut informasi arsipnya yang tertinggal sedikit. Setelah Indonesia merdeka, Algemeen Volkscrediet Bank berubah menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI).

8) Arsip Postspaarbank didirikan tahun 1897.

Menurut informasi arsipnya yang tertinggal juga sedikit. Setelah Indonesia merdeka, Postspaarbank ini berubah menjadi Bank Tabungan Negara

9) Arsip Nederlands Indisch Spoorwegen

Arsipnya cukup banyak. Nederlands Indisch Spoorwegen ini setelah Indonesia merdeka berubah menjadi Jawatan Kereta Api (Sekarang PT Kereta Api Indonesia (KAI). Arsip Nederlandsch Indisch Spoorwegen tersebut sekarang masih disimpan di Kantor Pusat PT KAI di Bandung.

 

II B 2b. Arsip Daerah

Arsip Peninggalan Belanda yang merupakan “Arsip Daerah” (Gewestelijk Archieven) dan masih tersimpan di lembaga Kearsipan Daerah tidak terlalu banyak. Beberapa lembaga Kearsipan Daerah (Badan/Kantor Perpustakan dan Arsip) yang saat ini mengelola “arsip Daerah peninggalan Belanda” adalah :

1) Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Sulawesi Selatan

Arsip peninggalan Belanda yang disimpan di lembaga kearsipan ini relatif cukup banyak dan sudah dibuat daftarnya. Bahkan terdapat arsip yang dulunya diambil dari Kabupaten Sangihe Talaud. Karena lembaga yang menyimpan arsip tersebut sebelumnya adalah Arsip Nasional Republik Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan yang merger dengan Perpustakaan Daerah Propinsi Sulawesi Selatan.

2) Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Jawa Barat

Arsip peninggalan Belanda yang disimpan di lembaga ini tidak banyak. Lembaga ini sebelumnya adalah Arsip Nasional Republik Indonesia Wilayah Jawa Barat yang merger dengan Kantor Arsip Daerah dan Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Barat

3) Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Jawa Tengah

Arsip peninggalan Belanda yang disimpan di lembaga ini tidak banyak. Lembaga ini sebelumnya adalah Arsip Nasional Republik Indonesia Wilayah Jawa Tengah yang merger dengan Kantor Arsip Daerah dan Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah.

4) Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Jawa Timur

Arsip peninggalan Belanda yang disimpan di lembaga ini tidak banyak. Lemabaga ini sebelumnya adalah Arsip Nasional Republik Indonesia Wilayah Jawa Timur yang merger dengan Kantor Arsip Daerah  dan Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Timur.

5) Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Maluku

Arsip peninggalan Belanda yang disimpan di lembaga ini dulunya relatif banyak. Menurut informasi, pada waktu kerusuhan Ambon arsipnya banyak terbakar. Lembaga ini sebelumnya adalah Kantor Artsip Daerah yang merger dengan Perpustakaan Daewrah Propinsi Maluku.

6) Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung

Arsip peninggalan Belanda yang tersimpan di lembaga ini tidak banyak. Lembaga ini sebelumnya bernama Kantor Arsip Daerah Kota Bandung.

7) Burgerlijke Stand Batavia

Arsip peninggalan Belanda yang berupa Burgerlijke Stand atau catatan Sipil Batavia disimpan di Kantor Catatan Sipil Jakarta. Jumlahnya relatif banyak. Di ANRI juga menyimpan arsip catatan sipil peninggalan Belanda.

 

III.     Akses terhadap Arsip Peninggalan Belanda di ANRI

Semua arsip peninggalan Belanda di Indonesia adalah arsip statis, yang berarti semua arsip tersebut terbuka untuk umum atau publik. Hanya saja perlu diketahui bahwa untuk peneliti asing untuk melakukan penelitian di Indonesia, termasuk di ANRI sebelumnya perlu mendapat ijin dari Menteri Riset dan Teknologi. Hak mendapatkan informasi, termasuk informasi yang berasal dari arsip merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang dijamin oleh konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945. Akses (access) sebagaimana telah disampaikan sebelumnya (dalam “Pengantar”) adalah berkaitan dengan hukum atau peraturan perundang-undangan dan berkaitan dengan ketersediaan sarana temu balik (finding aids).

Akses terhadap arsip peninggalan Belanda di ANRI dalam konteks hukum atau peraturan perundang-undangan jelas tidak ada masalah karena semua arsip tersebut memang terbuka untuk umum. Ada 2 (dua) Undang-Undang yang mengatur akses arsip, yaitu :

1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi publik, dan

2) Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan.

Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, akses terhadap arsip statis diatur dalam 4 (empat) pasal, yaitu Pasal 64, Pasal 65, Pasal 66, dan Pasal 67. Dalam konteks akses terhadap arsip peninggalan Belanda di ANRI kiranya Pasal 64 ayat (1) dan ayat (2) yang paling relevan.

Pasal 64 ayat (1) Lembaga kearsipan wajib menjamin kemudahan akses arsip statis …

Pasal 64 ayat (2) Akses arsip statis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk kepentingan pemanfaatan, pendayagunaan, dan pelayanan public dengan memperhatikan prinsip keutuhan, keamanan, dan keselamatan arsip.

Sedangkan dalam konteks ketersediaan sarana temu balik, masih terdapat hambatan karena belum semua arsip peninggalan Belanda telah tersedia sarana temu baliknya. Sarana temu balik ada 2 (dua), yaitu  pertama sarana temu balik ketika arsip masih dinamis, dan kedua sarana temu balik yang dibuat ketika arsip sudah statis. Hambatan akan ketersediaan sarana temu balik ini karena disebabkan oleh keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam penguasaan bahasa sumber, khususnya bahasa Belanda. Arsip peninggalan Belanda, sebagian kecil ada yang berbahasa Perancis, bahasa Arab, dan bahasa Jawa. Di samping kesulitan dalam bahasa, kesulitan lain adalah tulisan kuno atau paleografi.

Untuk mengakses arsip peninggalan Belanda di ANRI dapat dilakukan secara manual melalui sarana temu balik (finding aids) yang tersedia dan secara elektronik. Secara manual pengguna arsip terlebih dahulu perlu melihat sarana temu balik yang berupa Guide atau Daftar Ikhtisar Arsip. Untuk mencari arsip peninggalan Belanda, baik arsip VOC maupun arsip Pemerintah Hindia Belanda terlebih dahulu perlu melihat  Guide to the Sources of Asian History 4 Indonesia yang diedit oleh Mona Lohanda (1989), yang diterbitkan oleh ANRI atas bantuan UNESCO. Setelah itu untuk mencari arsip VOC perlu melihat Inventaris Arsip yang berjudul “The Archives of the Dutch East India Company (VOC) and the Local Institutions in Batavia (Jakarta)” yang dibuat oleh G.L. Balk, F. van Dijk, dan D.J. Kortlang dengan bantuan 17 arsiparis Indonesia. Inventaris ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan BRILL di Leiden pada tahun 2007. .

Untuk arsip Hindia-Belanda belum semua arsip tersedia inventaris atau daftarnya. Namun demikian untuk arsip Algemeen Secretarie “sarana temu balik ketika arsip tersebut masih dinamis cukup lengkap, yaitu ada klasifikasinya (hoofdenlist), indeks masalah, indeks nama, dan sebagainya, sehingga peneliti atau pengguna arsip dapat mencari arsip melalui sarana temu balik tersebut. Peneliti atau pengguna arsip dapat melihat Daftar Arsip atau Inventaris Arsip di “Ruang Katalog” di dalam Baca ANRI di Gedung A lantai Dasar. Di sini pengguna arsip atau peneliti bisa mencari arsip secara elektronik dengan menggunakan computer yang telah disediakan. Di sana telah diinstall suatu “Sistem Kearsipan Statis (SKS)” melalui suatu Jaringan yang disebut “Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (JIKN)”. SKS ini telah diimplementasikan ke seluruh propinsi di Indonesia.  SKS dan JIKN ini dalam bingkai Sistem Kearsipan Nasional (SKN) dan Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN). Sistem-sistem ini mulai dikembangkan sejak tahun 2005 dan mendapatkan legitimasi sejak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 43Tahun 2009 pada tanggal 23 Oktober 2009.

Perlu disampaikan di sini bahwa sewaktu penulis masih menjabat Kepala ANRI akan mengembangkan suatu unit “Center of Excelence” yang berlokasi di Gedung Arsip Gajah Mada, Jalan Gajah Mada 111, Jakarta Barat. Salah satu project awal untuk Center of Excelence adalah akan menjadikan Indonesia sebagai “Pusat Studi VOC dunia”. Untuk itu semua arsip VOC harus didigitalkan. Selain didigitalkan arsip VOC juga perlu dibuat copy dalam bentuk mikrofilm. Mikrofilm untuk kepentingan pelestarian arsip, sedang digitalisasi unrtuk kepentingan akses. Untuk masalah digitalisasi secara informal Nationaal Archief akan mengusahakan bantuan dan ada suatu yayasan (stichting) di Belanda yang juga menyanggupi memberikan bantuan untuk digitalisasi. Saya mendapat informasi bahwa Center of Excelence ditindak lanjuti oleh Kepala ANRI pengganti saya (Bapak M. Asichin) dan bantuan dari Belanda mulai diwujudkan.

 

IV. Penutup

Arsip peninggalan Belanda di Indonesia sebagian besar berada di ANRI, yang jumlahnya Sekitar 10 kilometer linier, dengan perincian arsip VOC sebanyak 2,5 kilometer linier dan arsip Pemerintah Hindia Belanda sebanyak 7,5 kilometer linier. Arsip Peninggalan Belanda yang di luar ANRI tidak sebanyak yang di ANRI. Perlu diketahui bahwa tidak ada arsip VOC dim luar ANRI. Yang di luar ANRI semuanya adalah arsip Pemerintah Hindia-Belanda. Barangkali arsip   yang terbesar di luar ANRI adalah arsip De Javasche Bank yang sekarang disimpan di Bank Indonesia, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Beberapa Bank masih menyimpan arsip peninggalan Bank Belanda tetapi jumlahnya relative sedikit. Beberapa arsip peninggalan Belanda yang lain yang relative agak banyak adalah arsip Topograpische Dienst, Hydrograpische Dienst, dan Spoorwegen. Sedangkan arsip daerah (gewestelijk archieven) yang masih berada di lembaga kearsipan daerah adalah di Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Barat, Propinsi Jawa Tengah, Propinsi Jawa Timur, Propinsi Sulawesi Selatan, Propuinsi Maluku, dan Kantor Perpustakan dan Arsip Daerah Kota Bandung.

Alangkah baiknya apabila BPPI melakukan pendataan terhadap arsip-arsip Peninggalan Belanda yang berada di luar ANRI dan yang berada di Luar Negeri, khususnya Belanda. Akses terhadap arsip peninggalan Belanda dari hukum tidak ada masalah sama sekali. Semua arsip sudah terbuka untuk umum. Sedangkan akses dalam konteks sarana temu balik masih ada kendala karena belum semua arsip peninggalan Belanda telah dibuat sarana temu baliknya. Pemanfaatan teknologi informasi hanya lebih memperlancar pencarian arsip tetapi bukan memecahkan permasalahan. Perlu kiranya ditekankan di sini bahwa untuk mengakses arsip peninggalan Belanda maka peniliti atau  pengguna arsip juga perlu memahami bahasa sumber, khususnya bahasa Belanda.

 

Djoko Utomo

  • Kepala ANRI 2004-2009
  • Penasehat Asosiasi Arsiparis Indonesia (AAI)
  • Penasehat Masyarakat Peduli Arsip (MAPA)
  • Anggota Kehormatan Dewan Kearsipan Asia Tenggara (SARBICA)

 

Daftar Bacaan

Peraturan Per-Undang-Undangan

Undang-Undang Dasar 1945

Undang-Undang Nomor  14 Tahun 2008 tentang Kerterbukaan Informasi Publik

Undang-Undang Nomor 43b Tahun 2009 tentang Kearsipan

 

Buku dan Makalah

Balk, Louisa and Frans van Dijk. 2007. “Dutch Archives on Indonesia” (Paper presented at International Seminar: Archives as Collective Memory of the Nations”. Denpasar, 3-4 September 2007)

Balk, G.L., F. van Dijk, and D.J. Kortlang. 2007. The Archives of the Dutch East India Company (VOC) and the Local Institutions in Batavia. Leiden, Boston: BRILL, 2007

Bos-Rops, J.A.M.Y et.al. 1982. De Archieven in Het Algemen Rijksarchief, with an English Summary Alphen aan den Rijn: Samson Uoitgeverij bv

Coolhaas, W.PH. (Schutte, G.J. Second Edition revised). 1980. A Critical Survey of Studies on Dutch Colonial History The Hague: Martinus Nijhoff

Drooglever, P.J., M.J.B. Schouten, and Mona Lohanda. 1999. Guide to the archives on relations between Netherlands and Indonesia 1945-1963. The Hague: Institute of the Netherlands History

Kecskemeti, Charles. 2000. Sovereignty Disputed Claims Professional Culture: Essays on Archival Policy. Brussel: Koninklijke Bibliotheek van Belgie

Lohanda, Mona (ed). 1989. Guide to the Sources of Asian History 4 Indonesia. Jakarta: National Archives of Indonesia

Walne, Peter (ed). 1988. Dictionary of Archival Terminology. Munchen, London: K.G. Saur

 

 

You are here Arsip Peninggalan Belanda di Indonesia dan Akses terhadap Arsip Peninggalan Belanda di ANRI
Ratusan pegiat, pakar, dan praktisi pelestarian pusaka Indonesia telah bergabung sebagai Anggota BPPI.
Gabung Sekarang!

Testimoni

Pusaka mencakup pula perilaku dan nilai luhur masyarakat yang harus dilestarikan

- I Gede Ardika, Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indonesia

Media Pusaka